Comparative Analysis Of Transportation Infrastructure Development Through PPP Scheme In Indonesia And Japan
Main Article Content
Abstract
During the last decade, infrastructure development has become the main focus for several developing countries seeking to achieve a high economic gr()'l,()th rate. H()'l,()ever, developing sufficient infrastructure to meet the demand side is quite challenging, especially given the financing required. To fulfill this condition, methodology for financing schemes for infrastructure projects with Public Private Partnerships (PPP) has recently been significantly increased in both developed and developing countries. To attract private investments, the government has attempted to improve the legal and regulatory framework at transportation sector. H()'l,()ever, revising the infrastructure laws is not enough to attract private sector investment. The government of Indonesia still needs more efforts to create an attractive investment climate. Although Indonesia has had a system for PPP methodology, only a few projects have been implemented.
The objectives of this study are to learn about and understand Japan's PFI methodology, particularly type I, and find the benefits of its implementation in terms of the development of public infrastructures and it can be implemented in Indonesia.
Through comparative analysis between PFI methodology in Japan and PPP methodology in Indonesia, it can be concluded that in general, since the project scope between Japan's PFI and Indonesia's PPP are fundamentally different, not all procedures in Japan's PFI methodology can be applied to improve Indonesia's PPP methodology. To apply some lessons learned from Japan's PFI, it is necessary to consider the nature and culture of the country. Based on the current condition of PPP projects in Indonesia, the government needs to take specific actions, including: institutional framework, service payment scheme and risk allocation.
Keywords: Japan's PFI, Indonesia's PPP, Comparative Analysis
Selama dekade terakhir, pembangunan infrastruktur telah menjadi fokus utama bagi beberapa negara berkembang untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Namun, mengembangkan infrastruktur untuk memenuhi permintaan cukup menantang, terutama mengingat pembiayaan yang diperlukan. Untuk memenuhi kondisi ini, maka dikembangkan metodologi pembiayaan yang dikenal dengan Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS), yang akhir-akhir ini telah meningkat secara signifikan di banyak negara maju dan berkembang. Untuk menarik investor, pemerintah telah berusaha untuk memperbaiki kerangka hukum dan peraturan di sektor
transportasi. Namun, merevisi undang-undang infrastruktur tidak cukup untuk menarik investor. Pemerintah Indonesia masih membutuhkan lebih banyak upaya untuk menciptakan iklim investasi yang menarik. Meskipun Indonesia telah memiliki sistem untuk metodologi KPS, hanya beberapa proyek telah dilaksanakan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari dan memahami metodologi PFI di Jepang, terutama tipe I, dan menemukan manfaat dari pelaksanaannya dalam hal pembangunan infrastruktur umum dan dapat diterapkan di Indonesia.
Melalui analisis komparatif antara metodologi PFI di Jepang dan PPP metodologi di Indonesia, dapat disimpulkan bahwa secara umum, karena ruang lingkup proyek antara PFI di Jepang dan di KPS di Indonesia pada dasamya berbeda, tidak semua prosedur dalam metodologi PFI di Jepang dapat diterapkan untuk meningkatkan PPP di Indonesia. Berdasarkan hasil analisis PFI di Jepang, maka perlu mempertimbangkan sfat dan budaya negara. Berdasarkan kondisi saat ini, maka pemerintah perlu mengambil tindakan tertentu untuk proyek KPS di Indonesia, termasuk: kerangka kelembagaan, skema layanan pembayaran dan alokasi risiko.
Kata kunci: PFI di Jepang PF!, KPS di Indonesia, Analisis Perbandingan
Downloads
Article Details
Section
Usulan Pembuatan Informasi Hak Cipta
1. Kebijakan yang diajukan untuk jurnal yang menawarkan akses terbuka
Syarat yang harus dipenuhi oleh Penulis sebagai berikut:
- Penulis menyimpan hak cipta dan memberikan jurnal hak penerbitan pertama naskah secara simultan dengan lisensi di bawah Creative Commons Attribution License yang mengizinkan orang lain untuk berbagi pekerjaan dengan sebuah pernyataan kepenulisan pekerjaan dan penerbitan awal di jurnal ini.
- Penulis dapat memasukkan ke dalam penyusunan kontraktual tambahan terpisah untuk distribusi non ekslusif versi kaya terbitan jurnal (contoh: mempostingnya ke repositori institusional atau menerbitkannya dalam sebuah buku), dengan pengakuan penerbitan awalnya di jurnal ini.
- Penulis diizinkan dan didorong untuk mem-posting karya mereka online (contoh: di repositori institusional atau di website mereka) sebelum dan selama proses penyerahan, karena dapat mengarahkan ke pertukaran produktif, seperti halnya sitiran yang lebih awal dan lebih hebat dari karya yang diterbitkan.
2. Kebijakan yang diajukan untuk jurnal yang menawarkan akses terbuka yang tertunda
Penulis yang menerbitkan dengan jurnal ini setuju pada persyaratan berikut ini:
- Penulis menyimpan hak cipta dan memberikan jurnal hak penerbitan pertama, dengan pekerjaan [TENTUKAN PERIODE WAKTU] setelah penerbitan secara simultan dengan lisensi di bawah: Creative Commons Attribution License yang memudahkan yang lain untuk berbagi karya dengan pengakuan penerbitan awal dan kepenulisan karya di jurnal ini.
- Penulis bisa memasukkan ke dalam penyusunan kontraktual tambahan terpisah untuk distribusi non-ekslusif versi kaya terbitan jurnal (contoh: mempostingnya ke repositori institusional atau menerbitkannya dalam sebuah buku), dengan pengakuan penerbitan awalnya di jurnal ini.
- Penulis diizinkan dan didorong untuk mem-posting karya mereka online (contoh: di repositori institusional atau di website mereka) sebelum dan selama proses penyerahan, karena dapat mengarahkan ke pertukaran produktif, seperti halnya sitiran yang lebih awal dan lebih hebat dari karya yang diterbitkan.
Warta Penelitian Perhubungan by Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License. Based on a work at //ojs.balitbanghub.dephub.go.id/index.php/warlit/index.
References
Government of Japan, 1999, Act Number 117 of 1999 on Promotion of Private Finance Initiative.
Government of Miyazaki City, Division of City Planning, Redevelopment of the surrounding area of Miyazaki station.
___ 2010), Fundamental Policy with respect to implementation of undertaking of public facilities by utilizing private funds, unofficial translated by Toru Mihara.
HOC Giinkaikan, 2010, Construction and Operation of Diet Members' Building (The House of Councilors).
Ministry of National Development Planning/National Development Planning Agency, PPP Book, Public Private Partnerships Infrastructure Projects in Indonesia 2010-2014,
Nagahama, Toshiki, 2010, Monitoring in PFI No.1, Module of National Development Planning Agency Staff Enhancement Program, November 13December 11th, 2010.
___ 2010, Monitoring in PFI No. 2, a case study of Wakkanai City Waste Final Final Disposal Site, Module of National Development Planning Agency Staff Enhancement Program, November 13- December 11th, 2010.
National Development Planning Agency of Republic of Indonesia , 2010.
Ueda, Kazuo, 2010, PFI in Japan, Module of National Development Planning Agency Staff Enhancement Program, November 13- December 11th, 2010.
___ 2010, Purpose and Process of PFI, Module of National Development Plan
ning Agency Staff Enhancement Program, November 13- December 11th, 2010.
--~2010, Activities of Japan PFl/PPP Association, Module of National Development Planning Agency Staff Enhancement Program, November 13December 11th, 2010.
____ 2010, Measures with respect to a proposal initiated by Private Enterprises under PFI Law, Module of National Development Planning Agency Staff Enhancement Program, November 13- December 11th, 2010.
Wakkanai City Waste Final Disposal Site, retrieved from http:/ /www.obayashi. co.jp / service_and_technology / n_010detail26, accessed date on December 81h, 2010.
Yamazaki, Tetsu, 2010, Risk Allocation between public and private "key success factors for PFI deals, Module of National Development Planning Agency Staff Enhancement Program, November 13- December 11th, 2010.
____ 2010, the private finance initiative in Japan-the challenges ahead, Privatization Japanese PFI. Module of National Development Planning Agency Staff Enhancement Program, November 13- December 11th, 2010. ___ (2010), Risk Allocation Table and extract of project contract for a waste disposal plant in Japan, Module of National Development Planning Agency Staff Enhancement Program, November 13- December 11th, 2010.