PENGEMBANGAN KAWASAN STASIUN TUGU YOGYAKARTA BERBASIS TRANSIT DENGAN PENDEKATAN AKSESIBILITAS

Main Article Content

Yohanes Satyayoga Raniasta
Ikaputra Ikaputra
Dyah Titisari Widyastuti

Abstract

Transit Oriented Development (pengembangan kawasan berbasis transit) telah menjadi model penataan kawasan untuk mereduksi kemacetan dan kesemrawutan kota yang memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas lingkungan. Kawasan Stasiun Tugu Yogyakarta merupakan kawasan tarikan dalam skala regional yang berbasis moda transportasi utama kereta api. Permasalahan aksesibilitas stasiun terhadap titik-titik tarikan kawasan menjadi isu yang perlu dicermati dalam rangka pengembangan dan penataan kawasan di masa yang akan datang. Penelitian ini membahas tentang kemudahan pencapaian penumpang kereta api lokal dari Stasiun Tugu untuk mencapai titik-titik aktivitas yang menjadi tarikan pergerakan pada kawasan dengan menggunakan moda berjalan kaki dan kendaraan umum non motorized (NMT) becak. Metode kualitatif-kuantitatif rasionalistik digunakan untuk pendekatan dalam penelitian ini, melalui wawancara terhadap 100 orang responden dan observasi fisik lapangan. Hasil dari wawancara dianalisis deskriptif, hasil observasi fisik dianalisis dengan variabel aksesibilitas pejalan kaki dan NMT becak. Variabel aksesibilitas pejalan kaki meliputi aspek kedekatan (jarak, waktu), keterhubungan, kemudahan, kenyamanan, keramahan, dan keterlihatan. Sedangkan variabel aksesibilitas NMT becak meliputi kedekatan (jarak, waktu, biaya), keterhubungan, kemudahan, dan kenyamanan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 12 (dua belas) titik tarikan kawasan dengan tingkat aksesibilitas pejalan kaki dalam ambang batas bawah tingkat baik (nilai 2,54 dalam skala 4,00) dan aksesibilitas NMT becak dalam ambang batas bawah tingkat baik (2,53 dalam skala 4,00). Tipologi permasalahan aksesibilitas kawasan adalah tingginya intervensi jalur pejalan kaki dan becak oleh fungsi parkir kendaran bermotor dan aktivitas pedagang kaki lima, minimnya signage informasi, kurangnya fasilitas bagi difabel, serta ketidaktersediaan jalur penyeberangan dan pangkalan yang baik bagi becak 

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

Section

Articles

References

American Planning Association. (2004). Planning and Urban Design Standards. John Wiley &Sons, Inc., New Jersey.

Arrington, G.B and Parsons Brickerhoff. (2003). Light Rail and the American City : State of the Practice for Transit Oriented Development. Transportation Research Circular E-C058: 9th National Light Rail Conference. Oregon.

Barton, Hugh., Marcus Grant dan Richard Guise. (2003). Shapping Neighbourhood. Spon Press. London.

Black, J.A. 1981. Urban Transport Planning : Theory and Practice. Cromn Helm. London.

Calthorpe, Peter. (1993). The Next American Metropolis : Ecology, Community, and the American Dream. Princeton Architectural Press. New York.

Ewing, Reid and Robert Cervero. (2010). Travel and The Built Environment A Meta-Analysis.Journal of The American Planning Association Vol.76, Issue 3, 2010.

Falconer, R., and Richardson, E., (2010). Rethinking Urban Land Use and Transport Planning – Opportunities for Transit Oriented Development in Australian Cities. Australian Planner, Vol 47, No.1, March 2010.

Handy, S., (1993). Regional Versus Local Accessibility : Implication for Nonwork Travel. In transportation Research Record 1400 pp.58-66. School of Architecture. University of Texas.

Loo, Becky P.Y., Cynthia Chen and Eric T.H. Chan (2010). “Rail-based Transit-Oriented Development: Lessons from New York City and Hong Kong. “Landscape and Urban Planning, 97: 202-212.

Nitta, Y., and Onnavong B. (2005). Identifying Inequality of Transportation Mobility : Developed Country vs Developing Country. Procedings of the Eastern Asia Society for Transportation Studies, Vol.5, pp.1065-1080. Osaka University.