Strategi Peningkatan Aksesibilitas Inklusif dan Berkelanjutan di Kawasan Pendidikan Kota Malang

Main Article Content

Happy Cola Mitra Surya
Masrono Yugihartiman

Abstract

Kota Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur dengan bangkitan tarikan perjalanan yang tinggi karena fungsinya sebagai kota pendidikan. Kawasan pendidikan mengakibatkan berkembangnya aktivitas tata guna lahan lain sehingga menjadi sangat padat dan kompleks. Keterkaitan antara tata guna lahan dan sistem transportasi yang belum optimal mengakibatkan lalu lintas campuran sehingga aksesibilitas pejalan kaki sangat terbatas dan berisiko terhadap keselamatan pejalan kaki. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan rekomendasi kebijakan melalui peningkatan aksesibilitas yang inklusif dan berkelanjutan guna mereduksi emisi gas buang, meningkatkan walkability index, dan efisiensi ekonomi. Penyediaan kawasan pejalan kaki (pedestrian precinct) di Jalan Gajayana dan Jalan Sumbersari sebagai area khusus bagi pejalan kaki berperan penting dalam mewujudkan lingkungan yang inklusif dan nyaman, konektivitas dengan halte, penyediaaan lajur pesepeda, micromobility, dan transportasi umum ramah lingkungan, menjadikan lokasi tersebut mampu memberikan multiplier effect yang berpedoman pada 3 aspek sustainable transport, yaitu aspek sosial, lingkungan, dan ekonomi sebagaimana yang telah dituangkan dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Pendekatan yang digunakan adalah metode campuran dengan menggabungkan analisis kuantitatif dan kualitatif. Setelah dilakukan simulasi penerapan tersebut, didapatkan bahwa kecepatan rata-rata jaringan sebesar 15,34 km/jam, level of service ruas jalan di Kawasan Pendidikan Kota Malang maksimal C, penurunan emisi gas buang NOx Jalan Gajayana 2 dari 24,81% menjadi 0,10% dan walkability index dari 31,71 menjadi 95,40 (status highly walkable). Dengan demikian, implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan aksesibilitas memiliki potensi signifikan dalam mendorong perbaikan kualitas, dan memberikan dasar strategis dalam perumusan kebijakan transportasi perkotaan yang lebih inklusif dan ramah lingkungan.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

Section

Articles

References

[1] G. N. P. Jaya, “Analisis Fungsi Halte dalam Sistem Transportasi Perkotaan Kota Bogor,” Jurnal Teknik, vol. 23, pp. 1–12, 2022.

[2] I. Wahyunanda, I. Muthohar, and M. Z. Irawan, “Model Mikrosimulasi Arus Lalu Lintas untuk Memprediksi Level Of Service Terhadap Perubahan Pola Pelayanan Angkutan Lanjutan (Studi Kasus Pada Kawasan Stasiun Palmerah Jakarta),” Jurnal Penelitian Transportasi Darat, vol. 23, no. 1, pp. 18–29, Jun. 2021, doi: 10.25104/jptd.v23i1.1558.

[3] S. T. Puspitasari, Y. T. Audina, A. Al Maududi, and M. R. Al Hasan, “Optimalisasi Inklusi Disabilitas Melalui Kegiatan Pendakian,” in Prosiding Seminar Nasional Pusat Gender dan Kesehatan, Malang: Pusat Gender dan Kesehatan LP2M Universitas Negeri Malang, Apr. 2021, pp. 81–87.

[4] P. Rizkiya, M. A. Yusuf, and I. Caisarina, “Akses Penyandang Disabilitas terhadap Layanan dan Fasilitas Transportasi Publik di Kota Banda Aceh,” Arsitekno, vol. 08, pp. 37–44, Mar. 2021.

[5] I. D. Agustina and W. Nurzanah, “Studi Aksesibilitas Transportasi Berkelanjutan Untuk Penyandang Cacat (Disabilitas) di Pusat Kota Medan,” Saintek ITM, vol. 31, pp. 50–63, 2019.

[6] S. Aryatama, “Navigasi Menuju Inklusivitas: Pengabdian Masyarakat dalam Meningkatkan Aksesibilitas Transportasi Untuk Penyandang Disabilitas,” Journal of Community Service, 6(1). https://doi.org/10.56670/jcs.v6i1.215, vol. 6, pp. 79–94, 2024, [Online]. Available: https://idm.or.id/JCS/index.php/JCS

[7] Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 96 Tahun 2015. Indonesia, Indonesia: https://jdih.dephub.go.id/site/index, 2015.

[8] A. Lunardon, D. Vladimirova, and B. Boucsein, “How railway stations can transform urban mobility and the public realm: The stakeholders’ perspective,” Journal of Urban Mobility, vol. 3, p. 100047, Dec. 2023, doi: 10.1016/j.urbmob.2023.100047.

[9] D. M. Pearce, R. Matsunaka, and T. Oba, “Comparing accessibility and connectivity metrics derived from dedicated pedestrian networks and street networks in the context of Asian cities,” Asian Transport Studies, vol. 7, Jan. 2021, doi: 10.1016/j.eastsj.2021.100036.

[10] Department of Transport and Main Roads Queensland Goverment, “Queensland Walking Strategy,” Aug. 2019.

[11] M. Jabbari et al., “‘The Pedestrian Network Concept: A Systematic Literature Review,’” Journal of Urban Mobility, vol. 3, Dec. 2023, doi: 10.1016/j.urbmob.2023.100051.

[12] Transport for London, Temporary Traffic Management Handbook Keeping People Safe at Roadworks. London: Transport for London, 2018.

[13] A. A. Mentari and dan M. S. Adhitama, “Hubungan Jalur Pejalan Kaki dan Activity Support Pada Koridor Jalan Sumbersari-Gajayana Kota Malang,” Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur, no. Vol. 6 No. 3 (2018), Jul. 2018, [Online]. Available: https://arsitektur.studentjournal.ub.ac.id/index.php/jma/article/view/642

[14] B. Amantana, “Tingkat Walkability berdasarkan Persepsi Pejalan Kaki di Koridor Jalan M.T Haryono Kota Malang,” Universitas Brawijaya, Malang, 2016. [Online]. Available: https://repository.ub.ac.id/id/eprint/144930/

[15] M. C. Endarwati, A. Setyawan, and O. Marison, “Penilaian Walkability Score Index pada Pusat Pelayanan dalam Menuju Kota Malang Berkelanjutan (Assessment of Walkability Score Index at Services Center Towards Sustainable Malang City),” Seminar Nasional Kota Berkelanjutan, pp. 174–194, May 2018, doi: 10.25105/psnkb.v1i1.2898.

[16] R. T. Nasution, M. Fuady, and M. Haiqal, “Identifikasi Kenyamanan Jalur Pejalan Kaki Kawasan Wisata Bersejarah di Pusat Kota Banda Aceh,” Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan, vol. 4, pp. 72–78, Nov. 2022.

[17] Direktorat Jenderal Bina Marga, Pedoman Perencanaan Teknis Fasilitas Pejalan Kaki. Indonesia: Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan rakyat, 2023.

[18] S. Hong, E. C. man Hui, and Y. Lin, “Relationship between urban spatial structure and carbon emissions: A literature review,” Nov. 01, 2022, Elsevier B.V. doi: 10.1016/j.ecolind.2022.109456.

[19] L. A. Guzman, J. Arellana, and W. F. Castro, “Desirable streets for pedestrians: Using a street-level index to assess walkability,” Transp Res D Transp Environ, vol. 111, Oct. 2022, doi: 10.1016/j.trd.2022.103462.

[20] A. G. Olabi et al., “Micromobility: Progress, benefits, challenges, policy and regulations, energy sources and storage, and its role in achieving sustainable development goals,” International Journal of Thermofluids, vol. 17, Feb. 2023, doi: 10.1016/j.ijft.2023.100292.

[21] A. M. Mulyadi et al., “Analisis Nilai Walkability pada Fasilitas Pejalan Kaki di Kawasan Transit Oriented Development (TOD),” Jurnal Jalan-Jembatan, vol. 37, no. 2, pp. 116–129, 2020.

[22] S. A. M. R. Megaartha, “Prinsip dan Penerapan Manajemen Proyek Lingkungan Pada Proyek-Proyek di Indonesia dalam Rangka Mewujudkan Sustainable Development Goals,” Jurnal Ilmiah Bidang Keuangan Negara, vol. 1, pp. 59–69, 2021.

[23] N. Septianingrum, D. Rachmanu, E. Handriyono, T. Lingkungan, T. Adhi, and T. Surabaya, “Model Dispersi Gas CO dan NOx dari Kegiatan Transportasi di Simpang Lima Kenanten Kota Mojokerto Berdasarkan Model Gauss (Studi Kasus: Jalan Gempol-Mojokerto),” in Seminar Nasional Sains dan Teknologi Terapan XI 2023, Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya, 2023.