PENGEMBANGAN DESAIN SISTEM PENGKONDISIAN UDARA KERETA API OLEH PT. INKA (PERSERO)

Main Article Content

Taufik Hidayat
Firdausa Retnaning Restu

Abstract

besaran termal seperti temperatur dan kelembaban udara serta kesegaran dan kebersihan udara sehingga diperoleh kondisi ruangan yang nyaman. Kebutuhan akan AC sebagai salah satu faktor penunjang kenyamanan di sarana perkeretaapian di Indonesia dan pasar global semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji mengenai perkembangan produksi AC di PT. INKA, sebagai bentuk upaya untuk ikut andil dalam pengembangan AC yang sesuai kebutuhan sarana kereta api dengan mempertimbangkan faktor-faktor tertentu dan sebagai upaya untuk efisiensi dan efektifitas produksi. Metode penelitian ini didasarkan pada pendekatan evaluasi kebijakan (peraturan perundangan dan dokumen formal) menggunakan data sekunder berupa literatur, buku, laporan dan dokumen terkait, diperoleh dari instansi-instansi terkait sesuai kebutuhan analisis data, khususnya PT. INKA dengan metode analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif, serta metode kepustakaan. Untuk memperoleh desain AC yang memenuhi kapasitas pendinginan sesuai kebutuhan, dapat dilakukan dengan menghitung kebutuhan pendinginan melalui perhitungan cooling load (beban pendinginan) ruangan, yang kemudian disesuaikan dengan kapasitas pendinginan AC yang dipilih dan dengan desain distribusi udara yang merata keseluruh ruangan. Hasil perhitungan dan pengujian AC produksi PT. INKA telah dilakukan oleh ITS menunjukkan bahwa AC produksi PT. INKA memiliki kapasitas pendinginan mencapai 46.876,05 kCal/jam, telah melebihi kapasitas desain sebesar 40.000 kCal/jam. Ini bermakna bahwa performansi AC INKA mampu menampung beban pendinginan melebihi desain kapasitas pendinginan hingga 17.19%. Pada saat dilakukan pengujian di lintasan operasi PT. KAI, berdasarkan standar UIC 553 danAC produksi PT. INKA mampu mengkondisikan udara sesuai kebutuhan ruang kereta dengan hasil rata-rata temperatur ruang adalah 20.45 °C - 21.65 °C dan rata-rata kecepatan udara pada kereta penumpang yang terukur adalah 0.089-0.09 m/detik. Nilai rata-rata temperatur udara yang terukur dibawah standar (22°C) menunjukkan bahwa performansi AC mampu mencapai temperatur di bawah target.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

Section

Articles

References

McGraw Hill Book Company. New York.

____. 2001. Tata Cara Perancangan Sistem Ventilasi dan Pengkondisian Udara Pada Bangunan Gedung. Direktorat Jendral Cipta Karya. Jakarta.

____. 2004. UIC Code 553 Heating, Ventilation, and Air-Condtioning in Coaches. Union Internationale des Chemin de Fer (UIC).

____. 2006. EN 14750 Air Conditioning for Urban and Suburban Rolling Stock. European Commitee for Standardization. Brussels.

Imam Abdurrahman, 2001. Buku Petunjuk Pengoperasian dan Pemeliharaan ACTEL, TL-AC002-2001. LIPI. Jakarta

J.Stone & Co. 1986. Stone Carrier Air Conditioning Equipment for Indonesia, Description and Instructions for Installation, Operation and Maintenance. London: DEPTFORD LIMITED.

Wahyu Pribadi,1987. Perhitungan Beban Pendinginan Gerbong Penumpang Kelas I PT. INKA. Technical Note DT32-045. Bandung: Direktorat Teknologi, PT. IPTN.

____. 2016. Laporan Kegiatan Pengujian Kapasitas Pendinginan Sitem Pengkondisian Udara ACI-4001. Laboratorium Energi dan Pengkondisian Lingkungan Jurusan Teknik Fisika Institut Teknologi 10 Nopember.

____. 2016. AC Konvekta 7401. www.konvekta.de

____. 2004.ANSI/ANHRAE STANDARD 34 “Al-No Flame Propagation and Low Toxicity. ANSI

____. 2016. Direktorat Teknologi. PT. INKA (Persero).