Analisis Kebijakan Operasi Kereta Api: Studi Kasus pada Lintas Bandung-Cicalengka

Main Article Content

Yunanda Raharjanto
Bram Hertasning
Shaula Fidilia

Abstract

Pembangunan jalur ganda (double track) dan revitalisasi stasiun pada segmen Kiaracondong–Cicalengka di lintas Bandung–Cicalengka diproyeksikan akan membawa dampak signifikan terhadap pola operasi dan kapasitas layanan kereta api di wilayah tersebut. Untuk menilai dampak tersebut, dilakukan kajian terhadap kapasitas lintas pasca-pembangunan dengan menggunakan empat acuan utama, yaitu: SK Direktur Jenderal Perhubungan Darat (Ditjen Darat) tentang pedoman teknis pengendalian lalu lintas di lokasi potensi kecelakaan di perlintasan sebidang dengan kereta api. No. KA.407/AJ.401/DRJD/2018 dan SK Ditjen Darat tentang pedoman teknis perlintasan sebidang antara jalan dan jalur kereta api. No. KP.770 Tahun 2005, UIC Code 406 are method for railway line capacity analysis and estimation, dan SNI 03-6795-2002 mengenai Metode Pengujian Untuk Menentukan Tanah Ekspansif. Keempat pedoman ini memberikan pendekatan yang berbeda namun saling melengkapi dalam pengukuran kapasitas jalur dan evaluasi kinerja operasi kereta api. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh petak jalan pada lintas Bandung–Cicalengka, termasuk segmen yang sedang ditingkatkan, belum mengalami kejenuhan kapasitas. Indikator-indikator utama seperti waktu okupansi (occupancy time), tingkat kejenuhan (saturation level), grafik kompresi perjalanan, dan evaluasi headway, semuanya menunjukkan bahwa lintas ini masih memiliki kapasitas cadangan yang cukup besar. Artinya, secara teknis, masih dimungkinkan untuk menambah jumlah perjalanan kereta api baik untuk layanan komuter maupun antarkota. Kesimpulan ini menjadi dasar penting dalam perencanaan pengembangan layanan, terutama dalam menjawab pertumbuhan permintaan transportasi di wilayah Bandung Raya. Dengan kapasitas yang memadai, Pemerintah dan operator kereta api dapat merancang peningkatan frekuensi layanan secara bertahap, disertai dengan manajemen operasi yang lebih efisien guna mendukung mobilitas masyarakat dan integrasi transportasi perkotaan.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

Section

Articles

References

[1] V. A. Profillidis, Railway Engineering. Ashgate, 2000.

[2] Kementerian Perhubungan, Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 35 Tahun 2011 Tentang Tata Cara dan Standar Pembuatan Grafik Perjalanan Kereta Api. Jakarta, 2011.

[3] Kementerian Perhubungan, “Rencana Induk Perkeretaapian Nasional,” Jakarta, 2011.

[4] S. Malkhamah, “Pendidikan Tinggi Teknis Bidang Perkeretaapian,” in Workshop Training Need Assessment Program Studi Akademi Perkeretaapian, Jakarta: Kementerian Perhubungan, 2012.

[5] B. P. Statistik, Statistik Indonesia 2023. Jakarta, 2023.

[6] Association of American Railroads (AAR), “National Rail Freight Infrastructure Capacity and Investment Study,” Cambridge Systematics, Inc., Massachusetts, 2020.

[7] B. Rahardjo, I. Mochtar, H. Widyastuti, and G. Taylor, “The effect of level crossing on the railroad line capacity,” Civ. Eng. Archit., vol. 10, pp. 2491–2499, 2022, doi: 10.13189/cea.2022.100620.

[8] R. L. Burdett and E. Kozan, “Techniques for absolute capacity determination in railways,” Transp. Res. Part B Methodol., vol. 40, no. 8, pp. 616–632, 2016.

[9] A. Landex, “Evaluation of Railway Capacity,” in Proc. Annual Transport Conference at Aalborg University, Denmark, 2016.

[10] A. Kavička, R. Diviš, and P. Veselý, “Railway station capacity assessment utilizing simulation-based techniques and the UIC406 method,” 32nd Eur. Model. Simul. Symp. EMSS 2020, pp. 41–49, 2020, doi: 10.46354/i3m.2020.emss.007.

[11] Z. Liao, H. Li, J. Miao, and L. Meng, “Estimating the Railway Network Capacity Utilization with Mixed Train Routes and Stopping Patterns: A Multiobjective Optimization Approach,” J. Adv. Transp., vol. 2024, 2024, doi: 10.1155/2024/5467767.

[12] Q. Zhong, S. Ni, S. Li, and C. Xu, “Railway Infrastructure Capacity Utilization Description through Data Integration in Blocking Time Theory,” 2019. [Online]. Available: https://api.semanticscholar.org/CorpusID:210905139

[13] Q. Zhong, C. Xu, R. Yang, and Q. Zhong, “Equivalences between analytical railway capacity methods,” J. Rail Transp. Plan. Manag., vol. 25, p. 100367, 2023, doi: https://doi.org/10.1016/j.jrtpm.2022.100367.

[14] D. Asenso-Gyambibi, N. Lamkai, E. Larbi, M. S. Peprah, B. Asamoah, and P. F. Okantey, “Optimal route selection of the Trans-ECOWAS line based on Ghana railway development – An integrated approach using entropy, TOPSIS and least cost path analysis,” Int. J. Earth Sci., vol. 4, pp. 449–465, 2022.

[15] E. Kozan and R. Burdett, “A railway capacity determination model and rail access charging methodologies,” Transp. Plan. Technol., vol. 28, 2015, doi: 10.1080/0308106052000340378.

[16] I. Dabavsinskienė, L. Railways, and L. Gelevzinkeliai, “Raida, Architektūra Ir Urbanistiniai Ypatumai,” 2018. [Online]. Available: https://api.semanticscholar.org/CorpusID:55150497

[17] U. Supriyadi, Kapasitas Lintas dan Permasalahannya. Bandung, 2008.

[18] U. Supriyadi, Perencanaan Perjalanan Kereta Api dan Pelaksanaannya. Bandung, 2008.

[19] Y. Hou, C. Wen, P. Huang, L. Fu, and C. Jiang, “Delay recovery model for high-speed trains with compressed train dwell time and running time,” Railw. Eng. Sci., vol. 28, pp. 424–434, 2020, doi: 10.1007/s40534-020-00225-8.

[20] M. Abril, F. Barber, L. Ingolotti, M. Salido, M. Tormos, and A. Lova, “An assessment of railway capacity,” Transp. Res. Part E Logist. Transp. Rev., vol. 44, pp. 774–806, 2006, doi: 10.1016/j.tre.2007.04.001.

[21] L. Akwetteh, C. Xu, M. D. P. W. Putri, and L. Okoe, “The current railway development and its influencing factors in Ghana,” Open J. Soc. Sci., vol. 9, pp. 228–244, 2021, doi: 10.4236/jss.2021.93015.

[22] E. A. G. Weits, “Railway Capacity and Timetable Complexity,” in Proc. 7th Int. Workshop on Project Management and Scheduling, Osnabrück, Germany, 2000.

[23] Y. Raharjanto, Sistem Persinyalan di Indonesia. CV Cakrawala Milenia Jaya, 2022.

[24] M. Luethi, A. La-sadri, J. Cordeau, and M. Hallowell, “Increasing railway capacity and reliability through integrated real time rescheduling,” in Proc. 11th World Conf. on Transport Research, Berkeley, 2007.

[25] D. Kasraian, K. Maat, and B. Wee, “Development of rail infrastructure and its impact on urbanization in the Randstad, the Netherlands,” J. Transp. Land Use, vol. 9, 2016, doi: 10.5198/jtlu.2015.665.